Home / Event / Peristiwa Malam Suroan

Peristiwa Malam Suroan

suroan

Perayaan 1 Suro bisa dilakukan dibanyak tempat dan dengan berbagai cara. Itu tergantung dari kemantapan batin yang menjalani dan bisa juga sesuai dengan tradisi masyarakat setempat. Berikut ini Tradisi/Ritual di malam 1 Suro yang biasanya masih dijalankan, khususnya oleh masyarakat Jawa ( kejawen) di Kota Batu:

  1. Tapa Bisu

Tapa Bisu atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.
mereka melakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik.

 

  1. Kungkum

Kungkum adalah berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, Yang paling mudah ditemui di Jawa

 

  1. Upacara / ritual ruwatan

Tradisi yang hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

 

  1. Ngumbah Keris

Ngumbah Keris atau njamas keris adalah tradisi mencuci/membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ngumbah keris menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya waktu tertentu. Lazimnya ngumbah pusaka/jamasan pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena ngumbah keris/jamas keris mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.

 

  1. Lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk)

Lek-lekan adalah tidak tidur semalaman, tradisi yang biasanya dilakukan oleh warga di desa-desa di Jawa biasanya para warga sudah menyiapkan acara masing-masing. Ada yang sekadar berkumpul dan lek-lekan, mengobrol di depan rumah, ada yang menyebut Tirakatan . Tirakatan adalah (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa), sebagian desa melaksanakan acara lek-lekan dengan mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

 

  1. Ritual Tirakatan

Ritual Tirakatan berasal dari kata Thoriqot atau Jalan, maknanya adalah kita berusaha mencari jalan agar dekat dengan Allah. Dengan kita melakukan ritual ini tanpa disadari ternyata kegiatan tirakatan ini juga telah meningkatkan kemampuan ketingkat yang lebih tinggi lagi, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, maupun kemampuan fisik dan pengolahan bathin kita untuk menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang kita hadapi.

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan-kegiatan menyambut bulan Suro sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Kegiatan-kegiatan yang berulang-ulang tersebut akhirnya menjadi kebiasaan dan menjadi tradisi yang setiap tahun dilakukan. Itulah yang kemudian disebut budaya dan menjadi ciri khas bagi komunitasnya.

Di sisi lain, ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Karena mereka beranggapan bahwa setiap bulan Suro Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya (tidak diketahui jumlah anaknya berapa) sehingga masyarakat Jawa yang punya gawe di bulan Suro ini diyakini penganten atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik berupa tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya.

Kamu Juga Bisa Jadi Traveller Mancanegara

Kamu Juga Bisa Jadi Traveller Mancanegara

 

Bergabunglah dengan memberlist kami, untuk mendapatkan informasi travelling terupdate dan ulasan travelling langsung ke email anda

Terimakasih telah mendaftar melalui newsletter kami

About Norman Lim

monsterid
Writing a book is a horrible, exhausting struggle, like a long bout of some painful illness. One would never undertake such a thing if one were not driven on by some demon whom one can neither resist nor understand. It ain’t whatcha write, it’s the way atcha write it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *