Home / Wisata Negeri / Wisata Budaya / Cagar Budaya Kecamatan Bumiaji

Cagar Budaya Kecamatan Bumiaji

Cagar Budaya Bumiaji 1

1. Goa Jepang Cangar (Japan Cangar Cave)

Goa peninggalan Jepang ini terletak di Desa Sumberbrantas kecamatan Bumiaji, kurang lebih 200 m dari pusat area pemandian air panas Cangar atau sekitar 20 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Goa ini merupakan salah satu goa peninggalan masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942-1945. Pemerintahan Jepang membangun goa ini sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat untuk penyimpanan  persediaan makanan.

Goa Jepang Cangar

2. Watu Gambang

Watu Gambang, terletak di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo ditengah kebun apel. Menurut Bapak Ananta tempat ditemukannya watu gambang ini bukanlah makam melainkan sebuah balai agung tempat berkumpulnya para leluhur sebagai tempat bermusyawarah.Setiap bulan Suro Senin Pahing panglima panglima dan para prajurit berkumpul di sini. Sebelum ke tempat ini mereka berkumpul di tugu sambil menunggu teman teman yang lain mereka bisa mandi di kali ledok.

Watu Gambang

3. Sumber Dampul.

Sumber Dampul terletak di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Tempat ini ditemukan oleh Eyang Ronggo Seti yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengambil air. Hingga saat ini tempat ini dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari hari seperti mandi,  minum dan lain lain sehingga dibangun tandon air. Nama Sumber Dampul berasal dari pohon dampul yang berada di lokasi sumber ditemukan. Saat ini satu pohon dampul terlihat sudah hampir mati karena sudah tua sehingga ditanam lagi pohon dampul yang baru.

Sumber Dampul

4. Makam Mbah Ronoyudo.

Makam Mbah Ronoyudo terletak di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Mbah Ronoyudo adalah seorang panglima Perang Keturunan keraton Jogja. Di tempat tersebut ada tiga buah makam di dalam sebuah bangunan persegi beratapkan genting dan sekelilingnya kayu. Menurut Bapak Ananta dua buah makam yang lain kemungkinan adalah makam senjata atauistri Mbah Ronoyudo. Dahulu disekitar tempat itu juga ada makam para prajurit, namun sudah hilang.

5. Makam Dinger.

Makam Dinger terletak di Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Melihat corak bangunan, dapat dipastikan bahwa bangunan ini merupakan peninggalan masa kolonial. Berdasarkan keterangan dari penduduk sekitar makam ini adalah makam dari warga Belanda yang dulunya menetap di lereng Gunung Arjuno untuk mengembangkan usaha pembuatan obat dari Tanaman Kina. Dari tulisan yang ada di bagian atas bangunan kemungkinan ini merupakan makam dari Familie Graff U Dinger yang dibuat pada tahun 1917.

makam dinger

6. TR. Selecta

Bangunan ini terletak di Jl. Raya Selecta 1 Desa Tulungrejo. Kompleks bangunan kuno ini masuk ke dalam kompleks wisata Taman Rekreasi Selecta. Selecta didirikan oleh seorang warga negara Belanda sekitar tahun 1930-an bernama Ruyter De wildt sebagai tempat peristirahan bagi kaum borjuis Eropa. Kata selecta berasal dari kata selectieyang berarti pilihan. Ketika Jepang berkuasa, tempat ini dikelola oleh warga negara Jepang bernama Mr. Hashiguchi. Setelah mengalami kerusakan pada zaman revolusi, pada tahun 1950 dibangun kembali oleh 47 tokoh masyarakat yang dikenal sebagai pendiri selecta.

Selecta

7. Balai Desa Tulungrejo.

Balai desa Tulungrejo terletak di Jl. Diponegoro 23, Desa Tulungrejo. Desa Tulungrejo pernah menjadi tempat pengendalian pemerintah pusat pada tahun 1946. Presiden Soekarno bertempat dihotel Bhima Sakti & wakil Presiden Drs. Moh. Hatta bertempat digedung Mimosa yang sekarang menjadi balai desa Tulungrejo sedangkan para menteri bertempat menjadi hotel selecta II. Dulu sebelum menjadi balai desa tempat ini pernah dijadikan taman kanak-kanak dan pada masa Agresi Militer ke 2 bangunan ini sempat dibumihanguskan namun masih tetap kokoh. Tempat ini pernah direnovasi pada tahun 1968.

balai desa tulungrejo

8. Rumah Kediaman Bapak Tondo Kuat (Mr. Tondo Kuat’s House)

Rumah kediaman Bapak Tondo Kuat terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji tepat disebelah balai desa. Menurut Bapak Heriyanto bangunan ini dulu menjadi satu dengan balai desa Tulungrejo. Bapak Tondo kuat sendiri adalah tentara armed. Pada masa itu tentara sangat berkuasa sehingga tempat tersebut terbagi menjadi dua, satu yang sekarang menjadi balai desa dan satu yang lain menjadi rumah kediaman Bapak Tondo Kuat ini. Beliau meninggal pada tahun 2010 karena sudah tua. Saat ini yang tinggal di tempat ini adalah anak dari bapak Tondo kuat.

Tondo Kuat

9. Punden Sengonan

Punden Sengonan merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang terletak di Dusun sengonan, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Punden ini disebut Punden Mbah Mertani oleh masyarakat sekitar. Cerita yang diwariskan turun temurun mengatakan bahwa beliau adalah orang yang pertama kali membuka tempat tersebut yang awalnya hutan yang disebut babat alas atau bedah kerawang. Hal ini dilakukan pada bulan Rajab hari Senin Kliwon, karena itulah tepat pada bulan dan hari tersebut setiap tahunnya diperingati turun temurun secara adat sebagai hari jadi desa.

Punden Sengonan

10.  Punden Cemorodoyong

Dibawah sebatang pohon cemara yang posisinya miring ke arah utara terdapat beberapa benda peninggalan sejarah. Dibagian depan ada tiga buah yoni berukuran sedang, dan diantara yoni dan pohon cemara tersebut ada sebuah balai kecil. Peninggalan yang bercorak hindu ini disebut dengan punden cemorodoyong kemungkinan karena lokasinya. Peninggalan bersejarah ini berada di Dusun Sengonan, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Menurut masyarakat sekitar, tempat ini disebut dengan Reco Banteng (Punden Banteng).

Punden Cemorodoyong

 

Kamu Juga Bisa Jadi Traveller Mancanegara

Kamu Juga Bisa Jadi Traveller Mancanegara

 

Bergabunglah dengan memberlist kami, untuk mendapatkan informasi travelling terupdate dan ulasan travelling langsung ke email anda

Terimakasih telah mendaftar melalui newsletter kami

About Norman Lim

monsterid
Writing a book is a horrible, exhausting struggle, like a long bout of some painful illness. One would never undertake such a thing if one were not driven on by some demon whom one can neither resist nor understand. It ain’t whatcha write, it’s the way atcha write it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *